Dari “Apaan Sih Drakor?” Jadi Budak Korporat Samsan Tech: Catatan Perjalanan Anak IT yang Keracunan Drama Korea
June 21, 2025
Sumpah, ya. Kalau ada yang ngasih lihat screenshot artikel ini ke diriku lima tahun lalu, reaksi pertamaku mungkin, "Hah? Siapa yang nge-hack blog-ku?"Seriously. Dulu aku itu ada di garda terdepan kaum anti-drakor. Bukan benci, tapi lebih ke... skeptis level maksimal. Tiap kali lihat poster drama Korea, yang mostly isinya cowok-cowok glowing dengan tatapan sendu, otakku yang isinya logical fallacy dan barisan kode ini langsung nge-asumsi:
Pasti ada adegan nangis di bawah hujan. It's a must.
Endingnya kalau nggak amnesia, ya ketuker pas bayi.
Basically, drama. Too much drama.
Hidup di dunia IT udah cukup drama, Bro. Antara bug yang nongol lima menit sebelum project deployment, atau klien yang minta revisi warna tapi bilangnya "kurang pop out," rasanya energi udah abis. Ngapain nambahin nonton drama lagi?Tapi, ya gitu. Manusia cuma bisa berencana. Kebosanan di suatu weekend yang cerah tapi mager ini akhirnya mengalahkan idealismeku. Satu klik iseng di Netflix... dan di sinilah aku sekarang. Writing a whole confession about it.
The Gateway Drug: Oh My Ghost
Semua berawal dari sini. Niatnya cuma mau cari tontonan ringan sambil makan malam. ThumbnailOh My Ghost ini nongol, kelihatannya kok lucu. Ada hantunya, ada chef-nya. Okay, let's give it a try. Batinku, "Paling 15 menit juga aku close."Well, I was wrong.Episode pertama langsung bikin aku... bingung. Bingung kenapa aku suka. Komedinya dapet banget, apalagi pas si hantu perawan genit (Shin Soon-ae) ngerasukin Na Bong-sun yang pemalu. Aktingnya Park Bo-young itu gokil, bisa ganti karakter dalam sekejap mata. Chemistry-nya sama si Chef arogan tapi peduli itu aneh, tapi gemesin.Ini bukan sekadar romansa. Ada misteri pembunuhan yang bikin penasaran, ada cerita soal passion di dunia masak. Suddenly, aku udah nonton tiga episode non-stop dan lupa sama kerjaan. Drama ini literally ngebuka mata kalau drakor itu spektrumnya luas. It's not just black and white.
The Point of No Return
Kalau Oh My Ghost itu gerbangnya, drama-drama berikutnya ini adalah jalan tol yang bikin aku nggak bisa putar balik.
Itaewon Class: Awalnya nonton karena hype rambut Park Sae-ro-yi. Tapi yang aku dapat lebih dari itu. Damn, this series has GRIT. Ini soal idealisme, soal perjuangan dari nol. Ngelihat Sae-ro-yi yang keras kepala banget sama prinsipnya itu inspiring. Di dunia yang seringkali menuntut kita buat kompromi, karakter dia itu kayak angin segar. Vibe kekeluargaan di kru DanBam-nya juga asik banget. It’s a life lesson disguised as a TV show.
The Uncanny Counter:Pure action, pure fun. Nggak perlu mikir njelimet. Konsepnya kayak nonton X-Men tapi versi Asia, di mana markasnya di restoran mie. Pertarungan lawan roh jahatnya seru, efeknya keren, dan persahabatan timnya itu the real deal. Ini bukti kalau drakor bisa jadi tontonan action-fantasy yang worth it.
My Spirit Animal: Kenapa Start-Up Hits Different
And then... there was Start-Up.Bro, drama yang satu ini... hits different. Kalau drama lain aku tonton sebagai penonton, Start-Up aku tonton sambil ngerasa 'terwakilkan'. Ini cerita tentang duniaku. Dunia startup, coding, pitching, dan mimpi-mimpi besar anak muda di sebuah inkubator fiksi bernama Sandbox.Kenapa aku bisa sebucin itu sama drama ini?Karena ini relatable banget di level yang personal. Adegan Samsan Tech (timnya Nam Do-san) begadang semalaman cuma buat nemuin satu bug sialan? I felt that. Momen mereka ikut hackathon, di mana adrenalin dan kafein jadi satu-satunya bahan bakar? Been there, done that. Momen ide brilian mereka dipuji, tapi pas ditanya soal model bisnis mereka malah bengong? Sumpah, itu pemandangan umum di dunia startup.Pas nonton Start-Up, imajinasiku lari ke mana-mana. Aku ngebayangin gimana rasanya duduk di kantor Samsan Tech yang berantakan itu, ngoding sampai pagi sambil ditemenin kopi instan. Ngebayangin gimana deg-degannya pas pitching di depan ratusan orang dan para investor, termasuk si mentor tajir tapi mulutnya pedes, Han Ji-pyeong. Ngebayangin gimana bangganya pas aplikasi yang kamu bangun dari nol akhirnya Go Live dan berhasil.Drama ini juga bikin aku dilema. Jujur, sebagai anak IT yang (berusaha) logis, awalnya aku 100% #TeamHanJiPyeong. Dia representasi kesuksesan yang jelas: mapan, cerdas, ngasih advice yang konkret dan masuk akal. He makes sense. Tapi... ngelihat perjuangan Nam Do-san yang canggung, jenius tapi naif, yang nulis kode dengan penuh passion... entah kenapa hatiku lebih condong ke dia. Perjuangannya yang 'berdarah-darah' dari nol itu lebih terasa nyata.Ending-nya pun sempurna menurutku. Nggak fairytale. Samsan Tech pecah, diakuisisi, dan masing-masing karakternya bertumbuh lewat jalan yang berbeda. Itu realistis. Karena di dunia teknologi, seringkali perjalanannya, ilmunya, dan teman seperjuangan yang kamu temukan itu jauh lebih berharga dari valuasi perusahaan di atas kertas.Basically, Start-Up itu kayak rangkuman mimpi dan kecemasan setiap anak IT.Jadi, ya, begitulah ceritaku. Dari seorang yang skeptis, sekarang Netflix-ku isinya rekomendasi drakor semua. Ternyata aku cuma perlu menemukan genre yang tepat yang nyambung sama duniaku. So, yeah, I'm a convert.Anyway, kalau kalian punya rekomendasi drakor lain yang vibe-nya mirip Start-Up atau yang action-nya seru, drop di komen ya. Lagi butuh asupan baru, nih. Cheers!